Rabu, 29 Desember 2010

Surat Untuk TIMNAS


Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?
Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!




Kamis, 09 Desember 2010

MERANTAU: Sarana Ujian Keluar dari Surau bagi Anak Minang

Siapa yang sangka, kiranya budaya merantau bagi anak Minang bukanlah sekedar untuk melestarikan karatau madang di ulu, di rumah babungo balun, ka rantau bujang daulu, dirumah baguno balun atau hanya untuk lari dari pahit getirnya h.....

Siapa yang sangka, kiranya budaya merantau bagi anak Minang bukanlah sekedar untuk melestarikan karatau madang di ulu, di rumah babungo balun, ka rantau bujang daulu, dirumah baguno balun atau hanya untuk lari dari pahit getirnya hidup dikampung.

     Namun lebih dari itu, adalah dalam rangka mengikuti ujian nilai adat Minang itu sendiri. Kita lihat euphoria masa lalu, dimana anak Minang menjadi yang terbaik di negeri ini. Mereka bisa berdakwah, mereka bisa berdiplomasi dan mereka bisa beladiri.MasyaAllah, Tidakkah kita tergerak ingin seperti mereka kembali.

     Apa bekal yang mereka bawa merantau?, ini adalah sebuah pertanyaan filosofis yang perlu kita jawab, sehingga dengan jawaban tersebut kita dapat menjawab tantangan aplikatif merantau dewasa ini. Kita agak skeptis pada hari ini, anak Minang pergi merantau hanya membawa bekal fisik saja lalu kita berharap mereka akan sukses di rantau. Tidakkah kita galau akan pengaruh globalisasi ini, dimana yang tidak punya bekal hanyut dibawa oleh globalisasi yang negatif, seperti pergaulan bebas, narkotika dan sampai kepada perubahan agama. Ini terjadi bukan saja di rantau, di kampung halamanpun terjadi, sehingga sudah berlaku cupak diganti urang pangaleh, jalan di alihurang lalu. Wallahualam.

     Apakah kita masih ingin mempertahankan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (biasa dikenal ABS-SBK), kalau masih, mari kita bersama jangan hanya berwacana, sementara kafilah berlalu jua. Mari kita wujudkan kembali anak Minang keSURAU. Ke surau disini, jangan hanya sekedar kita bayangkan, bahwa anak Minang disuruh lalok di surau, namun lebih dari itu, apa yang anak Minang masa lalu mempelajarinya mari kita hidupkan kembali, dengan jalan kemasan pendidikan yang disesuaikan dengan adat salingka nagari. Seperti, kalau kita berjalan-jalan, ke Jorong Batu Baselo, Nagari Matua Hilia, Kabupaten Agam, dimana masyarakat memberikan bekal kepada anak kemenakannya dengan bergantian tempat, dari satu rumah, besoknya kerumah yang lain atau dengan sistem bergiliran pada setiap rumah, yang bagusnya lagi mereka tidak memberatkan tuan rumah. Sesuatu pekerjaan yang juga patut kita tiru, disamping ilmu dapat bagi anak kemenakan kita, silahturrahmi juga berjalan.

Apa bekal itu ?

     Bekal yang di dapatkan anak Minang di masa lalu, setidak-tidaknya ada 4 (empat) pendidikan dan latihan, yaitu Bapamahaman Islam, Bapasambahan atau Bapanitahan,Ba Silek, Badendang.

     Ilmu yang paling diutamakan di dalam SURAU anak Minang dahulu adalah Bapamahaman Islam. Setiap sore anak Minang selepas beraktivitas –kalau sekarang sekolah- pergi ke surau untuk belajar bagaimana pemahaman tentang Islam yang benar, jadi disinilah peran pentingnya tuangku atau malin di dalam nagari atau jorong, mereka mendidik anak Minang didalam pemahamam Islam yang benar.

     Pemahaman Islam yang benar juga dilingkupi dengan pelajaran berdakwah dan qira’atul alqur’an yang bagus didengar. Kalaulah ini saja berjalan disetiap jorong atau nagari, maka kita tidak akan takut anak Minang kehilangan identitasnya dimanapun mereka kita suruh pergi, sekalipun ke Amerika atau Eropa yang terkenal dengan liberalismnya itu.

     Disamping itu juga mereka belajar Bapasambahan atau Bapanitahan. Selesai sholat magrib atau Isya, dengan dipandu oleh cadiak pandai yang ada di nagari atau jorong tersebut, diberikan pelajaran tentang Bapasambahan atau Bapanitahan ini. Kita tahu bahwa Bapasambahan atau Bapanitahan adalah nilai sastra yang tinggi, karena di dalamnya anak Minang mendapatkan ilmu berdiplomasi yang sangat halus, dimana ini sangat terpakai didalam pergaulan dimanapun berada. Dengan Bapasambahan atau Bapanitahan ini, anak Minang juga dididik mempunyai rasa malu, dimana ini sejalan dengan Islam itu sendiri,”malu adalah bagian dari iman’.

     Kemudian anak Minang juag diberi bekal dengan olah tubuh yang baik, dengan fisik yang terlatih yaitu pada pelajaran Basilek. Basilek adalah seni mempertahankan diri yang ada pada anak Minang. Dengan adanya bekal ini maka setiap anak Minang yang pergi merantau akan dapat mempertahankan nyawa, kekayaan dan harga dirinya dari ancaman, tantangan, hambatan dan ganguan dari sesuatu yang tidak baik. Dan ini biasanya diberikan selepas sholat isya atau sekali dalam seminggu.

     Penutup dari pelajaran yang diberikan kepada anak Minang, juga dibekali dengan Badendang. Badendang disini adalah dalam arti seni budaya yang ada pada adat salingka nagari, misal randai, saluang, tari-tarian, dan sebagainya.

Merantau sarana ujian

     Dengan adanya bekal tersebut di atas, maka baru anak Minang dilepas pergi merantau sesuai dengan keahlian yang telah didapatnya –sekarang sekolah- tersebut. Bekal tersebut tidak akan membuat ninik mamak dan orang tua cemas anak kemenakannya pergi walaupun terjadi globalisasi sekalipun 

     Kembali berlaku karatau madang di ulu, di rumah babungo balun, ka rantau bujang daulu, dirumah baguno balun atau guna mengubah hidup dari pahit getirnya hidup dikampung, namun dengan batasan bahwa ketikan anak Minang sukses di rantau, disana sudah dapat pertanda dari kampung bahwa ilmu yang diberikan guru-guru dikampung berhasil.

     Apakah sampai di situ?, tidak ketika anak Minang sudah berhasil di rantau maka ia harus membawa keberhasilannya tersebut ke kampung halaman. Dia harus membangun kampung halamannya sebagai ucapan terima kasih kepada guru-gurunya yang telah memberikan bekal tadi.

     Namun, dewasa ini apa yang terjadi, anak Minang yang sudah berhasil di rantau mereka tidak mau membangun kampung halamannya dengan berbagai dalil, dan yang lebihnya ini ketika ada yang ingin ikut serta membangun kampungnya di katakan ada udang dibalik bakwan, Kenapa? Karena bekal yang empat tadi tidak mereka dapatkan. Untuk itu mari kita ubah paradigma kita, bekali anak Minang dan pergilah merantau dan kembalilah ketika berhasil di rantau, bangun kampung. 

Beda Zaman

     Pledoi kita, orang tua dan ninik mamak sekarang adalah zaman kini dak amuahdisamokan dengan zaman saisuak. Betul, masa memang saling berganti, namun apa yang didalam hakikat yang didapat anak Minang dahulu masih relevan kita pakai sampai hari ini. Yang perlu kita sesuaikan adalah kemasannya. Kalau dahulu marokok jo daun anau, sekarang dengan gudang garam filter, akan tetapi yang intinya tetap rokok.

     Mari kita, pemerintah, ninik mamak dan orang tua saayun salangkah seperti contoh jorong Batu Baselo di atas, insyaAllah kita bisa.(***)











Yang Tak Bisa Diungkapkan AYAH

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…… Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu… Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” , Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang” Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja…. Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga.. Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu… Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama…. Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’) Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu.. Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…. Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut… Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? “Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti… Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa…. Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain… Papa harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. . Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat. Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa..

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa
pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!” Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin.. Karena Papa tahu….. Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya….
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia…. Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa…. Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik…. Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik…. Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk… . Dengan rambut yang telah dan semakin memutih…. Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya…. Papa telah menyelesaikan tugasnya…. .

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita… Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat… Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis… Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. . Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
















filsafat cinta

Makin kau kejar, makin ia menghindar
tapi bila kau biarkan ia terbang.
ia akan menghampirimu disaat kau tak menduganya.


cinta bisa membahagiakanmu tapi sering pula ia menyakiti.
tapi cinta itu hanya istimewa, apabila kau berikan pada seseorang yang layak menerimanya
jadi.tenang tenang saja jangan terburu-buru
hingga kau bisa memilih yang terbaik .


untuk kalian yang RAGU RAGU DENGAN PERNIKAHAN
Cinta bukanlah perkara menjadi ORANG SEMPURNAnya seseorang.
justru perkara menemukan seseorang yang bisa membantumu menjadikan dirimu sempurna.


untuk kalian yang TIPE PLAYBOY / PLAYGIRL
Jangan katakan AKU CINTA PADAMU bila kau tidak benar-benar peduli padanya.
Jangan bicarakan soal perasaan -perasaan itu bila tidak benar- benar adanya. Jangan kau Sentuh hidup seseorang bila kau berniat mematahkan hatinya. Jangan menatap kedalam matanya bila kau apa yang kau katakan cuma DUSTA.
Hal terkejam yang bisa dilakukan ialah membuat seseorang jatuh cinta, padahal kau tidak berniat sama sekali untuk menerimannya saat ia terjatuh.


Untuk kalian yang SUDAH MENIKAH
Kalau Cinta jangan katakan INI SALAHMU !tapi, maafkan aku ya?
Bukan KAU DIMANA?! melainkan ,AKU DISINI,KENAPA?
Bukan KOK BISA SIH KAU BEGITU ? tapi AKU MENGERTI 
Dan bukan COBA, SEANDAINYA KAU. 
akan tetapi TERIMA KASIH YA, KAMU
BEGITU


Untuk kalian yang PATAH HATI
Sakit patah hati bertahan selama kau menginginkannya dan akan mengiris luka sedalam kau membiarkannya.
Tantangannya bukanlah bagaimana bisa mengatasi melainkan apa yang bisa diambil sebagai pelajaran dan Hikmahnya


Untuk kalian yangB ELUM PERNAH JATUH CINTA Bagaimana kalau jatuh cinta : Mau jatuh,jatuhlah tapi jangan sampai terjerumus, tetaplah konsisten tapi jangan terlalu NGOTOT Berbagilah dan jangan sekali-kali tidak Fair.Berpengertianlah dan cobalah untuk tidak menuntut, siap-siaplah untuk terluka dan menderita,tapi
jangan kau simpan semua rasa sakitmu itu.


Untuk kalian yang INGIN MENGUASAI
Hatimu patah melihat yang kau cintai berbahagia dengan oranglain, tapi seharusnya akan lebih sakit
mengetahui bahwa yang kau cintai ternyata tidak bahagia bersamamu.


Untuk kalian yang TAKUT MENGAKUI
Cinta menyakitkan bila anda putuskan hubungan dengan seseorang. malah lebih sakit lagi bila
seseorang memutuskan hubungan denganmu. Tapi cinta paling menyakitkan bila orang yang kau cintai sama sekali tidak mengetahui
perasaanmu terhadapnya.


Untuk kalian yang MASIH BERTAHAN
MENCINTAI SESEORANG YANG SUDAH PERGI
Hal menyedihkan dalam hidup ialah bila kau bertemu seseorang lalu jatuh cinta,hanya kemudian pada akirnya kau menyadari bahwa dia bukanlah jodohmu. Dan kau telah menyia2 kan bertahun-tahun untuk
seseorang yang tidak layak. kalau sekarangpun ia sudah tak layak, 10 tahun dari sekarangpun ia juga tak akan layak. maka biarkan ia pergi dan lupakan

Selasa, 07 Desember 2010

pepatah minang "wanita di minang"

Anak gadih di minang kabau
Limpapeh rumah nan gadang
Sumarak dalam nagai
Hiasan di dalam kampuang,
Nan tahu di malu sopan,
Kamahias kampuang jo halaman,
Sarato koto jo nagari,
Sampai ka balai jo musajik,
Sarato jo rumah tanggo,


Dihias jo budi baiak,
Malu sopan tinggi sakali,
Baso jo basi bapakaian,
Nan gadang basa batuah,
Kok hiduik tampek banazar,
Kok mati tampek baniat.

Tiang kokoh budi nan baiak,
Pasak kunci malu jo sopan,
Hiasan dunia jo akhirat,
Auih tampek mintak aia,
Lapa tampek mintak nasi.
paham usah namua tajua,
Budi nan tidak amuah tagadai"

Anak gadih minang . .baetu saharusnyoo

Satu Matahari




Di batas itu, aku memilih menjadi buta.
Kenapa? Tanyamu.

Setahun yg lalu aku telah melihat sesuatu yg tak seharusnya kulihat.
Mereka bilang matahari
Mataku menangkap dia
Tubuhku seketika mengerang oleh cahaya yg terlalu terang. Dan terlalu gelap.
Lalu dia bergantian mendenyutkan ingin yg akut-seperti desah dalam lipatan daging
Terang - gelap - terang - gelap
Cadar ini terlalu tipis untuk menyembunyikan rasa

Apa yg kau lihat di jalan itu ?
Genangan air yg jadi hijau ?
Merah, kataku. Hujan merah.
Di balik garis-garis basah, dia indah dan selamanya berpendar.
Di sini, gambar-gambar memudar

Setelah itu, mereka mencoba menghilangkan cahaya dari ingatanku .
Tapi aku masih bisa merasakan panasnya.
Kata mereka, cuma ada satu matahari.
Kataku, itu milikku.
Dan aku tak mau berbagi.

Di batas itu, aku memilih menjadi buta.
Kenapa? Tanyamu.

Entahlah. Mungkin cinta memang begitu.