Siapa yang sangka, kiranya budaya merantau bagi anak Minang bukanlah sekedar untuk melestarikan karatau madang di ulu, di rumah babungo balun, ka rantau bujang daulu, dirumah baguno balun atau hanya untuk lari dari pahit getirnya h.....
Siapa yang sangka, kiranya budaya merantau bagi anak Minang bukanlah sekedar untuk melestarikan karatau madang di ulu, di rumah babungo balun, ka rantau bujang daulu, dirumah baguno balun atau hanya untuk lari dari pahit getirnya hidup dikampung.
Namun lebih dari itu, adalah dalam rangka mengikuti ujian nilai adat Minang itu sendiri. Kita lihat euphoria masa lalu, dimana anak Minang menjadi yang terbaik di negeri ini. Mereka bisa berdakwah, mereka bisa berdiplomasi dan mereka bisa beladiri.MasyaAllah, Tidakkah kita tergerak ingin seperti mereka kembali.
Apa bekal yang mereka bawa merantau?, ini adalah sebuah pertanyaan filosofis yang perlu kita jawab, sehingga dengan jawaban tersebut kita dapat menjawab tantangan aplikatif merantau dewasa ini. Kita agak skeptis pada hari ini, anak Minang pergi merantau hanya membawa bekal fisik saja lalu kita berharap mereka akan sukses di rantau. Tidakkah kita galau akan pengaruh globalisasi ini, dimana yang tidak punya bekal hanyut dibawa oleh globalisasi yang negatif, seperti pergaulan bebas, narkotika dan sampai kepada perubahan agama. Ini terjadi bukan saja di rantau, di kampung halamanpun terjadi, sehingga sudah berlaku cupak diganti urang pangaleh, jalan di alihurang lalu. Wallahualam.
Apakah kita masih ingin mempertahankan Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (biasa dikenal ABS-SBK), kalau masih, mari kita bersama jangan hanya berwacana, sementara kafilah berlalu jua. Mari kita wujudkan kembali anak Minang keSURAU. Ke surau disini, jangan hanya sekedar kita bayangkan, bahwa anak Minang disuruh lalok di surau, namun lebih dari itu, apa yang anak Minang masa lalu mempelajarinya mari kita hidupkan kembali, dengan jalan kemasan pendidikan yang disesuaikan dengan adat salingka nagari. Seperti, kalau kita berjalan-jalan, ke Jorong Batu Baselo, Nagari Matua Hilia, Kabupaten Agam, dimana masyarakat memberikan bekal kepada anak kemenakannya dengan bergantian tempat, dari satu rumah, besoknya kerumah yang lain atau dengan sistem bergiliran pada setiap rumah, yang bagusnya lagi mereka tidak memberatkan tuan rumah. Sesuatu pekerjaan yang juga patut kita tiru, disamping ilmu dapat bagi anak kemenakan kita, silahturrahmi juga berjalan.
Apa bekal itu ?
Bekal yang di dapatkan anak Minang di masa lalu, setidak-tidaknya ada 4 (empat) pendidikan dan latihan, yaitu Bapamahaman Islam, Bapasambahan atau Bapanitahan,Ba Silek, Badendang.
Ilmu yang paling diutamakan di dalam SURAU anak Minang dahulu adalah Bapamahaman Islam. Setiap sore anak Minang selepas beraktivitas –kalau sekarang sekolah- pergi ke surau untuk belajar bagaimana pemahaman tentang Islam yang benar, jadi disinilah peran pentingnya tuangku atau malin di dalam nagari atau jorong, mereka mendidik anak Minang didalam pemahamam Islam yang benar.
Pemahaman Islam yang benar juga dilingkupi dengan pelajaran berdakwah dan qira’atul alqur’an yang bagus didengar. Kalaulah ini saja berjalan disetiap jorong atau nagari, maka kita tidak akan takut anak Minang kehilangan identitasnya dimanapun mereka kita suruh pergi, sekalipun ke Amerika atau Eropa yang terkenal dengan liberalismnya itu.
Disamping itu juga mereka belajar Bapasambahan atau Bapanitahan. Selesai sholat magrib atau Isya, dengan dipandu oleh cadiak pandai yang ada di nagari atau jorong tersebut, diberikan pelajaran tentang Bapasambahan atau Bapanitahan ini. Kita tahu bahwa Bapasambahan atau Bapanitahan adalah nilai sastra yang tinggi, karena di dalamnya anak Minang mendapatkan ilmu berdiplomasi yang sangat halus, dimana ini sangat terpakai didalam pergaulan dimanapun berada. Dengan Bapasambahan atau Bapanitahan ini, anak Minang juga dididik mempunyai rasa malu, dimana ini sejalan dengan Islam itu sendiri,”malu adalah bagian dari iman’.
Kemudian anak Minang juag diberi bekal dengan olah tubuh yang baik, dengan fisik yang terlatih yaitu pada pelajaran Basilek. Basilek adalah seni mempertahankan diri yang ada pada anak Minang. Dengan adanya bekal ini maka setiap anak Minang yang pergi merantau akan dapat mempertahankan nyawa, kekayaan dan harga dirinya dari ancaman, tantangan, hambatan dan ganguan dari sesuatu yang tidak baik. Dan ini biasanya diberikan selepas sholat isya atau sekali dalam seminggu.
Penutup dari pelajaran yang diberikan kepada anak Minang, juga dibekali dengan Badendang. Badendang disini adalah dalam arti seni budaya yang ada pada adat salingka nagari, misal randai, saluang, tari-tarian, dan sebagainya.
Merantau sarana ujian
Dengan adanya bekal tersebut di atas, maka baru anak Minang dilepas pergi merantau sesuai dengan keahlian yang telah didapatnya –sekarang sekolah- tersebut. Bekal tersebut tidak akan membuat ninik mamak dan orang tua cemas anak kemenakannya pergi walaupun terjadi globalisasi sekalipun
Kembali berlaku karatau madang di ulu, di rumah babungo balun, ka rantau bujang daulu, dirumah baguno balun atau guna mengubah hidup dari pahit getirnya hidup dikampung, namun dengan batasan bahwa ketikan anak Minang sukses di rantau, disana sudah dapat pertanda dari kampung bahwa ilmu yang diberikan guru-guru dikampung berhasil.
Apakah sampai di situ?, tidak ketika anak Minang sudah berhasil di rantau maka ia harus membawa keberhasilannya tersebut ke kampung halaman. Dia harus membangun kampung halamannya sebagai ucapan terima kasih kepada guru-gurunya yang telah memberikan bekal tadi.
Namun, dewasa ini apa yang terjadi, anak Minang yang sudah berhasil di rantau mereka tidak mau membangun kampung halamannya dengan berbagai dalil, dan yang lebihnya ini ketika ada yang ingin ikut serta membangun kampungnya di katakan ada udang dibalik bakwan, Kenapa? Karena bekal yang empat tadi tidak mereka dapatkan. Untuk itu mari kita ubah paradigma kita, bekali anak Minang dan pergilah merantau dan kembalilah ketika berhasil di rantau, bangun kampung.
Beda Zaman
Pledoi kita, orang tua dan ninik mamak sekarang adalah zaman kini dak amuahdisamokan dengan zaman saisuak. Betul, masa memang saling berganti, namun apa yang didalam hakikat yang didapat anak Minang dahulu masih relevan kita pakai sampai hari ini. Yang perlu kita sesuaikan adalah kemasannya. Kalau dahulu marokok jo daun anau, sekarang dengan gudang garam filter, akan tetapi yang intinya tetap rokok.
Mari kita, pemerintah, ninik mamak dan orang tua saayun salangkah seperti contoh jorong Batu Baselo di atas, insyaAllah kita bisa.(***)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar