Minggu, 24 Agustus 2014

Ami

Bertahun umurmu di dunia ini, aku yakin kita pernah punya seorang kenalan, teman, sahabat atau  bahkan pacar yang namanya “sering dipakai” oleh para orang tua untuk menamai anak mereka. Haha, jangan marah dan langsung berpikir negative, beberapa orang mungkin memakai istilah “pasaran”, Namun sebagai seorang yang mempercayai jika nama adalah doa orang tuamu untuk kehidupanmu, maka aku pun memahami istilah “pasaran” ini sebagai “doa favorit para orang tua , yang direpresentasikan dalam sebuah nama” . terdengar panjang dan klise. Yaa tak apalah.

Salah satu nama yang sangat sering ku temui dan berkali-kali adalah Rahmi. Entah dia sebagai kawan, rival, atau bahkan jadi sahabat yang tak terlupakan. Kalau kau bilang sebagai kekasih aku akan sedikit jengkel, karena itu sangat amat tidak benar sekali. Semua rahmi yang kukenal dipanggil ami, nampaknya inipun jadi template para orang tua dalam menyingkat doa mereka mungkin. Tak kan kuceritakan semua rahmi atau ami yang kukenal. Ku ceritakan sedikit tentang ami yang terakhir kutemui dan memberi kesan mendalam sebagai sahabat dan saudara diperantauan.

Sudah jadi sifat manusia, selalu saja memberi penilaian subjektif pada manusia lainnya, entah itu fisik, atau hal lain yang melekat pada manusia tersebut. Angap lah ini kekhilafanku. Ami yang ini terlihat judes, gampang marah dan terlihat tak bersahabat (anggaplah itu iya). Kesan pertama yang muncul adalah hal tersebut.

Ditempatkan pada kota yang sama di semarang, lalu digeser ke Denpasar dan tergabung dalam tim yang sama, mau tak mau menjadi awal cerita kenapa ami ini ditulis, haha. Baru-baru insebelum kami berpisah, ku ganti nama contactnya di line jadi “Amitabh bachan” , bukan karena apa, hanya saja aku suka india, dan Amitabh Bachan itu keren. Haha oke kita kembali, siapa ami? Ami wanita dewasa menjelang tua lulusan teknik kimia yang melanjutkan magister manajemen di kampus rival dimana dia menyelesaikan strata-1 nya. Selalu ku komentari kenapa dia berani “murtad” dari rumpun ilmunya menjadi seorang magister manajemen. Dan sampai detik inipun aku tak pernah dapat jawaban yang pasti kenapa dia jadi seorang MBA dan join di perusahaan telekomunikasi bukannya jadi engineer diperusahaan tambang atau minyak atau apalah yang menjadi concern rumpun ilmu kimia. Blasteran minang-jawa mungkin jadi factor selanjutnya kenapa ami ditulis tinggal dan besar dijawa dengan seorang ibu Minang. Jangan harap dia bisa bahasa minang, tapi ya,dia memiliki semua unsur keminangan dari seorang gadis minang. Kenapa dia kusebut orang minang, karena sistem garis keturunan ibu yang dianut masyarakat minang.

Ya, teman satu motor, karena Denpasar yang mengharuskan kami tuk sewa motor karena tak ada transportasi umum, jadi sebab selanjutnya kenapa ami ditulis. Semua cerita-cerita super sotoy kami tentang hidup dan kehidupan dan tak jarang tentang semua kebijakan dan strategi perusahaan selalu kami komentari dengan seru , seperti orang segala tahu. Agak sungkan awalnya mengingat BELIAU lulusan magister manajemen kampus kenamaan, tak sejajar rasanya berdiskusi dengan aku yang entah siapa.
Tersesat berkali-kali karena aku yang tak kunjung hafal jalan, dan seringkali memutar jauh untuk pergi makan ketempat yang ingin kami tuju, seandainya tau jalan tentu akan lebih dekat walaupun semua berujung  pada indomie goreng dobel telor dan es teh manis, sesekali kentang goreng dan mcfloat yang kami paruh karena tak habis jika sendiri, atau ketika nafsu makan kami menggila dengan 1 bucket ayam cepat saji kami habiskan dalam sekejap, dan roti cane yang butuh waktu 2 hari untuk menemukan tempatnya setelah sebelumnya nyasar di rumah makan mbok limbok, atau yang akhir-akhir kami berpisah warung steak  jadi destinasi dikarenakan rengekan ku yang minta ditemani sebab belum pernah makan steak.
Atau menemani ami sekedar untuk berbelanja dan bertukar pendapat tentang benda yang akan dibeli, sesekali aku pun ikut belanja akibat rayuan mautnya, dia pikir gratis kutemani padahal ujung-ujungnya kutagih traktir makan junk food. Sekali kami pernah karaoke dan baru aku tahu suaranya lumayan, tapi tak selumayan suaraku,  summer time sadness dan terpukau astrid lagu yang melekat di otak besar ku kalau ingat karaoke dimalam takbiran.
Jangan kira selalu harmonis, selisih pendapat dan adu argument tak bisa kuhitung dengan jari terjadi, semua Cuma karena hal remeh-temeh. Faktor zodiak yang barangkali buat kami sama jadi orang keras kepala dan cenderung gengsi. Haha iya, kami sama-sama berzodiak libra, entah percaya atau tidak tapi beberapa kesamaan lainnya dalam kami berekspresi dan bertindak mungkin dipengaruhi “timbangan” ini, entahlah. Yang kuingat jam setengah 8 pagi atau kadang terlambat kami akan kekantor dengan saling diam sampai aku akhirnya minta permen fisherman ,  lalu setengah 8 malam saling ajak makan malam dengan tempat yang tanpa cek-cok selalu dengan mudah kami sepakati

Tak detail kuceritakan tentang ami, karena bisa-bisa jadi novel, dan belum tentu laku kalau dijual . Tapi dari semua penggalan yang kalian baca , dan mungkin cenderung tak bermakna, aku ingin  sampaikan sedikit hal. Kadangkala setelah berpisahlah kalian tahu betapa berartinya seorang sahabat, dan sayangnya kau tak sempat bilang dia kalau dia sahabatmu yang luar biasa dan berterima kasih atas semua hal yang kalian lakukan bersama. Ya aku belum sempat bilang itu. Kak ami, menjadi penyeimbang dan sekaligus refleksi, seperti cermin mungkin ku bisa mengamati gerak-gerikku dan saling membenahi agar kami lebih baik. Terima kasih 90 hari luar biasa, semua canda tawa, traktiran, kesasar, dan semua celotehan yang bermakna. Lain kali kita bertemu, aku sampaikan secara langsung. Terima kasih mau jadi sahabatku. 
Itu sudah..

*NB: bahkan aku tak punya gambar kami berdua, tapi semua melekat dihati dan tak terlupa

Wes Tah Lah

Otak kiri saya berusa mengobrak-abrik memori atau kumpulan vocab yang pernah dibaca dan dimengerti, namun tak kunjung menemukan kalimat yang barusan saya jadikan judul tulisan ini. Ya, bagaimana seorang sumatera bisa paham bahasa jawa yang tak pernah dilafalkannya, bahkan untuk kalimat satu ini baru sebentar tadi didengarkannya.

Adalah seorang manager branch NTT, pimpinan saya di nusa tenggara timur, Pak Rifai. Pria 30 tahunan kecil, segar, lincah, dan tampak selalu bersamangat dan sangat yakin pada setiap kata yang dikeluarkan oleh pita suaranya mengeluarkan kalimat tadi. Sebagai newbie dalam perusahaan ini dan didaerah  baru pula, ada sedikit sesi ramah-tamah dan semacam motivasi dar beliau.
Kenapa motivasi? NTT menjadi momok mungkin bagi tiap individu diperusahaan ini. Kamu ditempatkan di NTT adalah semacam ketidak beruntungan, garis nasib yang tak mujur, bahkan cenderung sial. Begitu mereka mengafiliasikan penempatan tugas di NTT. Tak heran menjadi tanggung jawab moril bagi manager kami untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi di provinsi ini. Sejauh mata memandang tak ada bedanya dengan painan, kalian tahu painan? Kota kecil di pesisir barat pantai sumatera , yang berpuluh tahun berdiri namun masih saja jadi kabupaten tertinggal di sumatera barat. Ya, itu kota kelahiran saya, kampung halaman saya. Sejauh ini malah KUpang sebagai ibu kota provinsi jauh lebih baik disbanding padang sebagai ibukota provinsi saya. 

Dengan semangat manager penuh passion ini bercerita, tak muluk-muluk dia menceritakan tentang hal yang paling dia pahami, diiri dia sendiri. Berkisah bagaimana seorang santri dijawa sana, yang mengira akan jadi ustadz di pondok pesantren lainnya, malah masuk kuliah diperguruan tinggi yang tak bisa dibilang top 5 di negeri ini dan jadi manager diumur yang bisa dibilang cukup muda. Termotivasi? Iya, tambah semangat? Saya jawab iya. Sepanjang cerita beliau selalu mengulang kata “Wes Tah Lah” di setiap bahasan mengenai kondisi geografis, dan segala keterbatasan yang ada di provinsi ini.  “temenmu ditempatin di Jakarta, kamu di maumere, wes tah lah” , “jauh dari keluarga ndak bisa sering pulang, wes tah lah”, “ndak bisa main nongkrong ditempat gaul, wes tah lah”. Dan hal lain yang selalu beliau akhiri dengan “wes tah lah”

Banyak poin yang disampaikan, banyak pengalaman yang dibagi. Wes tah lah ini selalu jadi repitisi dan melekat. Entah apa artinya, bahkan sampai detik saya menulis ini pun saya tak tau artinya apa. Bukan tak mau cari tau, tapi biarlah saya artikan sendiri sebagai, syukuri saja nikmat yang diberikan Rabb mu. Tak usah banyak keluh kesah, sedu sedan, gundah gulana. Bohong jika saya bilang saya tak berharap mengabdi di area 1, pulau Sumatera toh tak perlu susah payah saya pun sudah pahami kebiasaan dan pendekatan dengan penduduk lokal, daya paham medannya, saya khatam local wisdom mereka. Lantas apa yang memberatkan hatimu jika ditempatkan ditenggara timur Indonesia? Kampungkah? Kurang kampung apa kota kelahiran dan kampung halaman mu?. Tidak ada hiburan? Kau pikir dipainan ada hiburan kah, selain debur ombak pantai cerocok atau orkes dangdutan yang diadakan muda mudi jika tujuh belasan atau hari raya. Super market? Hey kau belanja kebutuhan sehari-hari juga diwarung, bakan ibumu salah satu penjual diwarung kecil 2x3 di pojok kiri halaman rumah. Lantas apa yang kau risaukan? . mungkin itu sepenggal dialog non-verbal yang terjadi di kepala saya.

Jarak yang jauh menjadi pertimbangan, namun itu terjawab dengan “bantuan” yang dikategorikan khusus oleh perseroan. Jadi silaturrahim dengan orang tua pun tak jadi masalah kawan. Ini adalah saat berdamai dengan hatimu sendiri, tak peduli dimanapun, kapanpun, atau bagaimanapun. Yang terpenting adalah manafaat apa yang bisa dirimu berikan. Sambutan hangat dan senyum persahabatan telah diperlihatkan keluarga baru saya di Maumere. Maumere di pulau flores, Nusa Tenggara Timur. Ya disinilah saya menulis sekarang. Dengan segala kemantapan hati untuk menjalankan amanah ini. Butuh proses memang, tapi semoga tak terlalu memakan waktu, agar semua bisa berjalan lancar dan maksimal. Semoga kita semua dimudahkan Allah SWT. Dimanapun kamu sekarang sahabatku “wes tah lah”, semoga nanti kita bertemu saling tersenyum dan bercerita tentang tampatmu dan tentang Maumere ku. Wes Tah Lah

Minggu, 17 Agustus 2014

MAUMERE

Tak terlalu banyak tentang kota ini yang bisa saya dapatkan di mesin pencari. Muncul beberapa tempat wisata yang kental suasana nasrani dan beberapa kasus kriminal dan ekonomi.

Ya, besok pagi saya harus berangkat kesana. Disalah satu tempat di floresbnusa tenggara timur. Ditugaskan perusahaan , ditempatkan disana untuk waktu yang belum ditentukan berapa lamanya.

Sebagai seorang minang, yang identik dengan merantau boleh jadi tak masalah. Namun kegamangan tentu muncul mengingat letak geografis yang jauh dr kampubg halaman. Entah bagaimana budaya disana.
Semoga dilancarkan dan akan selalu menulis semua pengalaman disana :-)