Minggu, 24 Agustus 2014

Wes Tah Lah

Otak kiri saya berusa mengobrak-abrik memori atau kumpulan vocab yang pernah dibaca dan dimengerti, namun tak kunjung menemukan kalimat yang barusan saya jadikan judul tulisan ini. Ya, bagaimana seorang sumatera bisa paham bahasa jawa yang tak pernah dilafalkannya, bahkan untuk kalimat satu ini baru sebentar tadi didengarkannya.

Adalah seorang manager branch NTT, pimpinan saya di nusa tenggara timur, Pak Rifai. Pria 30 tahunan kecil, segar, lincah, dan tampak selalu bersamangat dan sangat yakin pada setiap kata yang dikeluarkan oleh pita suaranya mengeluarkan kalimat tadi. Sebagai newbie dalam perusahaan ini dan didaerah  baru pula, ada sedikit sesi ramah-tamah dan semacam motivasi dar beliau.
Kenapa motivasi? NTT menjadi momok mungkin bagi tiap individu diperusahaan ini. Kamu ditempatkan di NTT adalah semacam ketidak beruntungan, garis nasib yang tak mujur, bahkan cenderung sial. Begitu mereka mengafiliasikan penempatan tugas di NTT. Tak heran menjadi tanggung jawab moril bagi manager kami untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi di provinsi ini. Sejauh mata memandang tak ada bedanya dengan painan, kalian tahu painan? Kota kecil di pesisir barat pantai sumatera , yang berpuluh tahun berdiri namun masih saja jadi kabupaten tertinggal di sumatera barat. Ya, itu kota kelahiran saya, kampung halaman saya. Sejauh ini malah KUpang sebagai ibu kota provinsi jauh lebih baik disbanding padang sebagai ibukota provinsi saya. 

Dengan semangat manager penuh passion ini bercerita, tak muluk-muluk dia menceritakan tentang hal yang paling dia pahami, diiri dia sendiri. Berkisah bagaimana seorang santri dijawa sana, yang mengira akan jadi ustadz di pondok pesantren lainnya, malah masuk kuliah diperguruan tinggi yang tak bisa dibilang top 5 di negeri ini dan jadi manager diumur yang bisa dibilang cukup muda. Termotivasi? Iya, tambah semangat? Saya jawab iya. Sepanjang cerita beliau selalu mengulang kata “Wes Tah Lah” di setiap bahasan mengenai kondisi geografis, dan segala keterbatasan yang ada di provinsi ini.  “temenmu ditempatin di Jakarta, kamu di maumere, wes tah lah” , “jauh dari keluarga ndak bisa sering pulang, wes tah lah”, “ndak bisa main nongkrong ditempat gaul, wes tah lah”. Dan hal lain yang selalu beliau akhiri dengan “wes tah lah”

Banyak poin yang disampaikan, banyak pengalaman yang dibagi. Wes tah lah ini selalu jadi repitisi dan melekat. Entah apa artinya, bahkan sampai detik saya menulis ini pun saya tak tau artinya apa. Bukan tak mau cari tau, tapi biarlah saya artikan sendiri sebagai, syukuri saja nikmat yang diberikan Rabb mu. Tak usah banyak keluh kesah, sedu sedan, gundah gulana. Bohong jika saya bilang saya tak berharap mengabdi di area 1, pulau Sumatera toh tak perlu susah payah saya pun sudah pahami kebiasaan dan pendekatan dengan penduduk lokal, daya paham medannya, saya khatam local wisdom mereka. Lantas apa yang memberatkan hatimu jika ditempatkan ditenggara timur Indonesia? Kampungkah? Kurang kampung apa kota kelahiran dan kampung halaman mu?. Tidak ada hiburan? Kau pikir dipainan ada hiburan kah, selain debur ombak pantai cerocok atau orkes dangdutan yang diadakan muda mudi jika tujuh belasan atau hari raya. Super market? Hey kau belanja kebutuhan sehari-hari juga diwarung, bakan ibumu salah satu penjual diwarung kecil 2x3 di pojok kiri halaman rumah. Lantas apa yang kau risaukan? . mungkin itu sepenggal dialog non-verbal yang terjadi di kepala saya.

Jarak yang jauh menjadi pertimbangan, namun itu terjawab dengan “bantuan” yang dikategorikan khusus oleh perseroan. Jadi silaturrahim dengan orang tua pun tak jadi masalah kawan. Ini adalah saat berdamai dengan hatimu sendiri, tak peduli dimanapun, kapanpun, atau bagaimanapun. Yang terpenting adalah manafaat apa yang bisa dirimu berikan. Sambutan hangat dan senyum persahabatan telah diperlihatkan keluarga baru saya di Maumere. Maumere di pulau flores, Nusa Tenggara Timur. Ya disinilah saya menulis sekarang. Dengan segala kemantapan hati untuk menjalankan amanah ini. Butuh proses memang, tapi semoga tak terlalu memakan waktu, agar semua bisa berjalan lancar dan maksimal. Semoga kita semua dimudahkan Allah SWT. Dimanapun kamu sekarang sahabatku “wes tah lah”, semoga nanti kita bertemu saling tersenyum dan bercerita tentang tampatmu dan tentang Maumere ku. Wes Tah Lah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar